Saturday, July 16, 2016

Selfie Yang Menggerogoti

Image result for selfie ketika sholat

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dear temans,

Tamu kita bulan Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Bagaimanakah perasaan Anda?
Senang karena tidak puasa lagi?Atau justru sedih?


Kalau saya sih jujur saya sedih karena  momen lebaran ini masih banyak ketertinggalan saya dalam hal ibadah sunnah. Saya sering meninggalkan sholat trawih, dikarenakan kalau sholat trawih berjamaah di masjid kompleks banyak pemandangan anak-anak yang berseliweran, bercanda, dan terus terang sangat mengganggu konsentrasi saya. Meski mereka sudah berkali-kali diperingatkan oleh pengurus masjid. Selain itu, Lala kalau diajak sholat trawih malah bercanda dengan dengan si kakak, kakaknya tidak pernah usil sih, justru adiknya yang usil si kakak lagi sholat didorong-dorong. Meski, sudah saya nasihati berkali-kali rasanya nasihat saya cuman masuk "telinga kanan keluar telinga kiri". Setelah itu, sholat trawih belum selesai sudah ngajak pulang, kadang tidur.  Kalau tidur sih enggak masalah sih sebenarnya kalau bercanda dengan teman-temannya itu yang bikin saya enggak enak dengan jamaah yang lain. Jadilah, saya lebih banyak menunaikan sholat di rumah terkadang juga gantian sama suami. Kalau suami pergi sholat trawih dengan si kakak, saya di rumah jagain Lala.

Cerita di atas adalah kesedihan saya yang pertama.
Kesedihan yang kedua adalah....
Anda suka selfie tidak? Kalau saya  tidak membenci selfie, namun juga tidak terlalu suka. Tapi, kalau ada momen yang membutuhkan pengin selfie ya kadang-kadang selfie namun tidak terlalu over.  Percaya atau tidak, saya memiliki tongkat selfie yang belum pernah saya pakai sampai sekarang lho. 
"Selfie sendiri artinya adalah mengambil foto diri sendiri dengan kamera dari jarak dekat." 

Selfie di tempat wisata

Image result for selfie di pohon

Selfie di lift
Image result for selfie di lift

Selfie di mobil

Image result for selfie di mobil

Selfie di tempat berbahaya (please, jangan ditiru)

Image result for selfie di tempat berbahaya

Selfie mulai dikenal orang dengan semakin berkembangnya fitur-fitur dari telepon seluler bernama handphone.  Kalau dulu handphone hanya untuk menelpon dan sms sekarang bisa untuk skype (bertatap muka walau jarak jauh) cocok buat yang LDR an nih, mengetahui kemacetan dengan google map dll yang tentunya sangat bermanfaat.
"Hal yang patut kita sayangkan adalah selfie pada saat kita menjalankan ibadah. Ini banyak terjadi pada saat hari raya Idul Fitri kemaren. Ini saya alami sendiri ketika banyak ibu-ibu muda atau anak-anak muda yang selfie dan memposting fotonya di facebook kala kotbah sedang berlangsung, bahkan saat takbir dan tahmid dikumandangkan. Atau juga ada kaum bapak-bapak, menurut cerita ipar saya yang selama kotbah hanya mengklak-klik handphonenya."
Kalau menurut saya silahkan Anda selfie dimanapun tempatnya, namun di tempat ibadah mengapa sih kita tidak memfokuskan diri hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, zat yang telah memberi kita rezeki dan umur sehingga kita bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Untuk sementara waktu, matikan gadget Anda.

Bagaimana pandangan Islam tentang Selfie??
Islam tidak melarang Selfie namun jangan sampai dimanapun tempatnya Anda selfie, karena Allah SWT melarang hambanya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia. Di antara tanda baiknya seorang muslim adalah ia meninggalkan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Waktunya diisi hanya dengan hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Sedangkan tanda orang yang tidak baik islamnya adalah sebaliknya.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
Ù…ِÙ†ْ Ø­ُسْÙ†ِ Ø¥ِسْلاَÙ…ِ الْÙ…َرْØ¡ِ تَرْÙƒُÙ‡ُ Ù…َا لاَ ÙŠَعْÙ†ِيهِ
Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Sumber: https://rumaysho.com/2322-meninggalkan-hal-yang-tidak-bermanfaat.html

Haram tidaknya selfie tergantung dari niat kita.  Jika kita berselfie hanya untuk menunjukkan rasa kangen dan cinta kita kepada sanak saudara yang jauh tempatnya, yang tidak memungkinkan kita untuk jarang bertemu. Mempostingnya di BBM kita itu masih wajar dan tidak dilarang.
Namun, bisa juga berfoto selfie menjadi haram jika membawa pada yang haram. Misalkan, selfie yang diunggah ke media sosial dengan tujuan riya atau pamer karena telah melakukan kebaikan atau untuk memamerkan harta. 
Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa' [4]: 142). 
Hati-hatilah selfie yang seperti inilah yang bisa menggerogoti nilai ibadah kita. Tentunya, kita tidak ingin apabila kita bertemu dengan Allah SWT ternyata banyak nilai merah kita.
Semoga ini bisa menjadi bahan renungan kita....
Salam hangat,

Ningrum









Monday, July 11, 2016

Ingin Jakarta Bebas Macet? Jangan Pergi Ke Jakarta!



Dear temans,

Jumpa lagi dengan Mama Lala disini....
Maaf, sudah lama tidak posting tulisan karena keasyikan jalan-jalan dengan ponakan-ponakan tercinta saya dari Papua. Adik perempuan saya yang rumahnya di Papua, tiap kali ketemuan selalu ngajak jalan-jalan terus, mumpung di Jawa katanya. Sampe kaki pegel-pegel karena harus berjibaku dengan kemacetan tiap kali sampai di tempat wisata. Sekali-kali menyenangkan adik, karena juga jarang ketemu.
Gimana liburan Anda selama Idul Fitri?Pastinya juga menyenangkan bukan? 

My little sister and I (sok inggris ya)

Di hari Raya Idul Fitri ini tak hanya kaum dewasa saja yang bergembira, anak-anakpun dibuat senang karena mendapat angpao dari tante-tante, om, eyang. Yang jumlahnya lumayan fantastis he..he...sampai-sampai si kakak berseloroh, enak ya mah kalau Idul Fitri dapat uang banyak. Rencananya anak-anak inginnya sebagian ditabung dan sebagian lagi untuk membeli buku-buku cerita kesukaan mereka. Saya sih terserah mereka saja.

Liburan Idul Fitri ini seperti biasa saya berkunjung ke desa Kakek Nenek saya di Boyolali. Letaknya masih masuk ke dalam dari Kota. Nama desanya lupa he..he..Kalau tidak salah Desa Kemusuk. Lumayan terpencil. 

Saya suka sekali pergi ke desa, lantaran disana pemandangannya masih sejuk.  Udaranya segar, masih banyak suara burung disana sini. Kakek Nenek saya seorang petani tulen, mereka dulunya juga memelihara beberapa ekor sapi dan ayam. Tetapi, karena sekarang keduanya sudah almarhum sapinya dipelihara oleh Bulik saya. Rumah Nenek saya sangat besar, berbentuk joglo dengan halaman yang sangat luas, mungkin muat untuk dibangun 4-5 rumah. Di depannya terdapat pohon sawo, pohon jengkol, pohon mangga, dan pohon kelapa. 

Akses menuju rumah Nenek sekitar 10 km dari jalan raya, dengan jalanan yang tidak rata alias gronjal-gronjal. Separuh diaspal, separuh tidak. Ada kalanya terbersit rasa malas juga ingin pergi kesana kalau tidak karena ibu saya yang berpesan untuk selalu memelihara silaturahmi dengan saudara-saudaranya di desa. 

Pembangunan desa Nenek saya sudah lumayan maju dibandingkan 10 tahun yang lalu ketika saya belum menikah. Waktu itu, jalan belum diaspal, dulu hanya sebagian kecil orang yang memiliki sepeda motor sebagai transportasi ojek. Sekarang, hampir semua orang di desa Nenek memiliki sepeda motor. 

Rata-rata orang di desa Nenek saya adalah petani, menggarap sawah sendiri atau sawah orang lain. Anak-anak mereka juga rata-rata berpendidikan rendah. Pada awalnya mereka juga bertani seperti ayah ibunya. Namun, lambat laun karena menganggap bahwa bertani kurang menghasilkan dan kurang bisa mengubah taraf hidup mereka, banyak diantara mereka yang hijrah ke Jakarta atau menjadi TKW di luar negeri. Patut disayangkan memang. 
Sekarang, hanya sebagian kecil orang desa yang benar-benar memelihara sawahnya. Rata-rata mereka memperkerjakan orang lain untuk menggarap sawahnya. Kemudian, hasilnya dibagi dua.

Jakarta tampaknya masih menjadi pesona bagi banyak orang untuk mengadu nasib hingga sekarang. Karenanya, hampir tiap tahun orang dari desa pergi ke kota Jakarta bersamaan dengan hari raya Idul Fitri. Mereka diiming-imingi dengan gaji yang tinggi. Meskipun, juga kita tidak pernah tahu apakah pekerjaan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Apalagi, bila mereka memiliki ketrampilan dan pendidikan yang rendah rasanya sulit untuk menaklukkan kota Jakarta.

Jakarta selalu menyisakan cerita macet di tiap harinya, tak hanya pada saat hari raya Idul Fitri saja. Menurut sudut pandang saya ada banyak alasan kenapa Jakarta macet beberapa diantaranya adalah :
  • Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan
  • Jumlah penduduk Jakarta yang padat
  • Banyaknya pendatang ke Jakarta tiap tahunnya
  • Tingginya pembelian mobil di Jakarta karena kemudahan kredit
  • Semakin berkurangnya lahan karena pembangunan perumahan
Ingin Jakarta bebas macet?Jangan pergi ke Jakarta deh...lebih baik bangun desa Anda. Boleh pergi ke Jakarta asalkan Anda memiliki skill dan pendidikan yang mumpuni
Demikian menurut saya sih......Thanks for reading.


Salam hangat,



Ningrum















Back to Top