Kenali 5 Manfaat Membaca Bagi Anak, Untuk Meningkatkan Minat Baca

Friday, May 29, 2020


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sudah beberapa tahun lamanya Indonesia memiliki minat baca yang rendah, bahkan termasuk terendah di Asia. Hal itu ditunjang dengan rendahnya daya beli akan buku. Menurut beberapa orang, daripada beli buku mendingan buat makan atau kebutuhan lainnya.

Dari data  UNESCO menyebutkan minat baca orang Indonesia hanya sekitar 0,001%. Itu artinya diantara 1000 orang, hanya 1 orang yang rajin membaca. Indonesia memiliki peringkat 60 dibawah Botswana untuk membaca. Sangat miris bukan?

Pemerintah Indonesia sudah berupaya untuk meningkatkan minat baca di Indonesia antara lain dengan mendirikan perpustakaan gratis, perpustakaan keliling dan membuat event-event festival literasi. Namun, hal itu nampaknya belum berhasil untuk mengkatrol minat baca orang Indonesia.

Minat baca yang rendah itu bertolak belakang dengan sebuah fakta bahwa rata-rata orang Indonesia kuat menatap/membaca gadget selama 9 jam dalam sehari. Bahkan kecepatan tangan memberi likes lebih cepat daripada kecepatan otaknya. Untuk berkicau di media sosial orang Indonesia terutama orang Jakarta juga terhitung lebih cerewet di bandingkan orang Jepang. Indonesia menduduki urutan nomer 5 untuk kecerewetan di media sosial. Bisa dibayangkan ilmu kurang, malas membaca dan itu bisa menjadikan Indonesia menjadi sasaran empuk masuknya berita hoaks dan provokasi.

Rupa-rupanya malas membaca itu sudah menjadi “penyakit” di kalangan orang Indonesia. Terkadang, belum selesai membaca sebuah artikel sudah dishare duluan. Padahal, artikel itu belum tentu benar. Hal itu saya alami sendiri pada masa pandemi Corona ini. Bahkan, karena saya tidak kuat dengan informasi hoaks seputar Corona di sebuah grup sekolah ibu-ibu saya terpaksa keluar grup tersebut. Bayangkan, setiap hari sebut saja ibu x mengunggah info-info hoaks seputar Corona. Beberapa kali sudah saya luruskan kalau itu hoaks. Dia malah berkilah "harusnya berterimakasih dikasih informasi". Hmm.....macam tak betul budak ni.  Padahal grup kita kan banyak. Bisa lebih dari 10 grup. Bikin puyeng bacanya. Apalagi, pas tetangga saya ada yang PDP Corona, saya membatasi diri untuk tidak terlalu banyak membaca berita seputar Corona, supaya tidak stress.

Untuk membangkitkan minat baca orang Indonesia saya rasa harus dimulai dari lingkup keluarga lebih dahulu. Anak kita terus tumbuh besar maka kita harus terus menerus menambah ilmu kita dari membaca buku terutama ilmu parenting/mengasuh anak. Saya sangat suka membaca lantaran juga dulu suka melihat Bapak saya suka membaca. Beliau suka membaca surat kabar. Kita langganan surat kabar Suara Merdeka. Terus saya suka meminjam majalah Bobo juga di tetangga. Karena menurut ibu saya majalah Bobo termasuk mahal kala itu dan ortu saya belum sanggup untuk membelikan. Kesukaan membaca saya tularkan ke anak-anak saya. Saya suka sekali membelikan mereka buku-buku cerita, buku dongeng, dan buku-buku tentang kepahlawanan.  Karena si kakak sudah remaja, maka saya belikan juga buku-buku motivasi dan novel-novel untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. 

Mulai umur 1.5 tahun anak-anak mulai pandai bicara dan menirukan kata-kata kita. Itulah saatnya kita untuk membelikan buku-buku bergizi untuk mereka. Di usia tersebut anak-anak saya belikan buku-buku sederhana tentang binatang, buku tentang buah-buahan, buku sederhana tentang kerjasasama seperti buku  Halo Balita terbitan Dar Mizan yang berjudul Gajah Bersin ini. Anak saya yang balita sangat suka dengan buku itu. Dia berkali-kali minta diulang untuk diceritakan buku Gajah Bersin tersebut. Dari buku  anak belajar tentang warna, macam-macam binatang, buah-buahan dan belajar tentang kecerdasan emosional.

Si kecil saya Lisa dengan buku baru kesukaannya berjudul Gajah Bersin, bukunya hardcover jadi tidak bisa disobek.



Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari membaca. Menurut Ayah Bunda 5 manfat membaca bagi anak adalah :

Prestasi

Berbagai penelitian menyebutkan, anak yang ‘terpapar’ bacaan sejak dini sebelum ia masuk sekolah akan lebih bertanggung jawab dan ‘tampil’ lebih baik di semua aspek pendidikan formal ketika ia di sekolah kelak. Tidak berhenti di sektor pendidikan formal, tapi anak juga memiliki bakat pembelajar secara umum di semua bidang.

Kemampuan berkomunikasi


Saat Anda membacakan anak cerita, dengan memperkenalkan berbagai tokoh serta berbagai ekspresi, anak jadi belajar berimajinasi dan menyerap banyak hal. Ini membuat kemampuan berkomunikasinya jadi lebih baik saat bersosialiasi dengan orang lain.

Kebutuhan

Terbiasa melihat dan mengalami sendiri bahwa membaca buku merupakan hal yang menyenangkan, maka ini akan menjadi suatu kebutuhan yang akan terus dicari anak sampai dewasa. Anak akan cenderung memilih buku sebagai hiburan, ketimbang televisi maupun gadget.

Solusi baru

Momen anak memasuki babak baru dalam hidupnya, misalnya potty training maupun masuk pra sekolah, yang mengharuskan anak bertemu dengan ritual atau orang baru, berpotensi bikin anak tertekan. Bantu ia mengatasinya dengan membacakan cerita dengan kasus yang mirip, sebelum anak akan menghadapi saat-saat tersebut. Ini bisa mengurangi kecemasannya.

Kemampuan berpikir logis

Membacakan anak cerita, selain membiasakannya berimajinasi, juga melatih anak berpikir logis dan kritis, memahami konsep sebab-akibat, dan belajar mengetahui nilai-nilai yang baik.

 

 

 

 

 


Maafkanlah Dirimu Bila Gagal Meraih Sesuatu

Tuesday, May 19, 2020

Lawan Covid-19 dengan Self-Healing

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Cerita ini sudah lama sekali terjadi.
Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA kelas 3 di sebuah kota kecil nan sejuk dan berhawa dingin kota kelahiran saya, Salatiga. Saya boleh dibilang murid "tengahan" dalam artian bodoh juga tidak, terlalu pintar juga tidak. Tapi, alhamdulilah saya selalu masuk ke sekolah-sekolah yang termasuk favorit di Salatiga seperti masuk di SMPN 2 Salatiga dan SMAN 1 Salatiga. Dalam hati saya selalu terpatri ingin selalu membahagiakan kedua orang tua saya. Saya selalu ingat ketika Bapak saya mengambil rapor, di rumah jantung saya dag dig dug dapat rangking tidak ya, dapat nilai berapa ya. Bapak saya sih orangnya santuy aja soal nilai, mau nilai berapapun yang penting bukan nilai merah alias nilai kebakaran. Jaman saya dulu kalau nilai jelek di rapot ya ditulis apa adanya dengan tinta merah. Kalau sekarang kebanyakan nilai dikatrol-katrol untuk menyenangkan orang tua. Kalau soal pelajaran, pelajaran yang paling saya sukai pada masa SMP dan SMA adalah bahasa Inggris. Sampai-sampai teman saya menjuluki guru bahasa Inggris itu sebagai bapak/ibu saya. 
Orang tua saya jarang menemani saya belajar semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ayah saya bekerja sebagai PNS di Pengadilan Negeri Salatiga sedangkan ibu saya ibu rumah tangga dengan 5 orang anak. Saya memang agak kurang kasih sayang hu hu. Kasihan banget ya. Semua pelajaran saya pelajari sendiri secara otodidak. Saya jarang banget yang namanya belajar. Seringnya main terus sampai Maghrib, kalau belum dibawain sapu oleh ibu saya, saya belum pulang. Hehe. Masa kecil saya di kampung sangat menyenangkan untuk bermain. Waktu itu tanah masih lapang belum banyak rumah, jadi saya dan teman-teman masa kecil saya sukanya bermain di kebun tetangga yang luas sekali dan sekarang menjadi rumah sakit THT. Banyak kisah manis terukir disana.

Kisah Gagal Meraih PMDK 
Ketika saya SMP saya memiliki teman yang lumayan akrab, dia murid pindahan lupa pindahan darimana. Anaknya cerdas banget dan berprestasi. Begitu pindah sekolah saya dia langsung menduduki peringkat pertama di sekolah. Dan itu bertahan terus sampai kelas 3. Ketika SMA kita berbeda sekolah.
Hingga suatu saat waktu itu kelulusan SMA, saya mendapat kabar kalau teman saya tersebut, sebut saja namanya N meninggal dunia karena tidak bisa masuk PMDK. Kata kabar yang beredar si N tersebut mengidap penyakit jantung. Padahal kalau saya melihat si N itu kayak tidak punya beban gitu. Maksudnya orangnya santai gitu. Kaget benar saya ketika mendengar kabar tersebut.

Kisah Gagal Meraih Cinta
Di kampung saya Salatiga banyak banget kasus seperti ini. Ada laki-laki dan ada pula perempuan. Salah satu contohnya adalah sebut saja namanya Mas Dodo. Mas Dodo ini sudah memiliki gandengan yang sudah disetujui oleh keluarganya masing-masing. Mas Dodo pekerjaanya  biasa saja, hanya pesuruh sekolah. Gajinya tidak terlalu banyak, namun ketika pacarnya pingin kuliah dia sanggup kok menyekolahkan si pacar sampai selesai. Begitu si pacar ini selesai kuliah dan bekerja, si pacar ini cinlok dengan teman kerjanya. Hubungan mereka lalu putus di tengah jalan. Hingga sekarang Mas Dodo trauma dan tidak mau menikah lagi. Katanya takut kalau tidak bisa membahagiakan si calon nantinya dan dia cenderung jadi skeptis dengan dirinya sendiri.

Hidup itu penuh warna. Ada suka dan duka. Adakalanya kita berhasil meraih sesuatu, adakalanya kita gagal meraihnya. Jikalau kita gagal, jangan lantas putus asa dan terus menerus menyalahkan diri sendiri karena bisa berujung pada depresi. Kita harus menemukan suatu metode untuk menyembuhkan diri karena kegagalan tersebut yang disebut dengan Self  Healing.
Kita bisa merawat rambut, gigi, mata dan tubuh kita namun apakah kita bisa merawat pikiran dan perasaan kita ?

Apa itu Self  Healing ?
Self Healing adalah sebuah proses sederhana untuk membantu menyembuhkan luka batin dengan melibatkan kekuatan diri sendiri secara penuh untuk beranjak dan bangkit dari penderitaan. Tanpa bantuan orang lain, tanpa media apapun. Self Healing membantu kita mengenali pikiran dan perasaan negatif yang selama ini mengurung diri. Setelah mengenali dan menerimanya kita akan mampu mengurai satu persatu masalah yang membebani pikiran dan perasaan kita tadi. Tujuannya bukan mengingat-ingat luka yang telah berlalu, tetapi mengajak kitan untuk lebih memahami diri sendiri (diambil dari Pijar Psikologi.org).

20+ Free Self-Healing & Prunella Vulgaris Photos - Pixabay

5 Self Healing Ala Saya :

1. Banyak-banyak membaca Al Quran
Dengan sering-sering membaca Al Qur'an insya Allah pikiran jadi lebih tenang dan jernih dalam berpikir. 

2. Membaca Buku Psikologi
Bagi yang hobi baca-baca bisa juga nih dicoba. Membaca buku bisa menambah wawasan kita tentang berbagai hal termasuk masalah kita. Saya percaya setiap masalah pasti ada solusinya.

3. Memandang foto-foto keluarga dan anak-anak
Dengan memandang foto-foto keluarga saya, saya merasa seperti mendapat energi baru untuk setiap masalah yang ada di dalam hidup saya. Mengingat progress yang telah saya capai selama berkeluarga dengan suami dan mensyukurinya. Karena banyak juga lho teman saya yang hingga detik ini masih belum menikah.

4. Mendengarkan lagu-lagu/musik
Mendengarkan lagu bisa menjadi self healing yang patut direkomendasikan. Dengan mendengarkan lagu pikiran kita jadi lebih rileks dan mudah menerima masukan. Seorang pasien kanker di Amerika Serikat bisa bertambah peluang hidupnya karena mendengarkan lagu. Saya rasa rumah sakit di Indonesia perlu mempraktikannya ya supaya pasien tidak jenuh dan stress berada di rumah sakit.

5. Melakukan Me Time
Ada kalanya kita perlu sesekali Me Time dengan diri sendiri tanpa anak-anak dan suami seperti misal ke salon untuk cream bath atau berenang. Wah, pasti seru sekali kan? Sayang saya belum bisa nih kayaknya soalnya si balita saya belum bisa ditinggal lama-lama. Kayaknya saya harus lebih banyak bersabar nih. 

Maafkanlah diri kalian bila memang telah gagal meraih sesuatu. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Terimalah itu sebagai kekurangan diri dan pandanglah ke depan. Jangan pandang ke belakang. 
Semoga bermanfaat ya.....

Ramadhan di Tengah Pandemi Corona

Tuesday, May 12, 2020

Rukun Puasa Ramadhan dan Syarat Wajib Ibadah Diterima - Umroh.com

Suasana Ramadhan kali ini benar-benar berbeda untuk semua orang muslim di dunia, khususnya di Indonesia. Saya yang sebelumnya kalau keluar-keluar tidak pernah sekalipun memakai masker, sekarang tiap keluar rumah selalu memakai masker. Saya yang tadinya kalau habis pegang uang/bertransaksi jarang banget yang namanya cuci tangan, sekarang tiap selesai berbelanja selalu cuci tangan. Memang, adanya pandemi Corona sedikit banyak mengubah kebiasaan orang yang tadinya mungkin agak jorok dan kurang memperhatikan kebersihan jadi suka kebersihan. 

Ramadhan kali ini semua anggota keluarga saya mengikuti anjuran pemerintah belajar dari rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah.

Memang, awalnya ada kejenuhan yang luar biasa karena adanya pandemi Corona ini terutama dari anak-anak ya. Mereka ingin sekali berkunjung ke utinya di Salatiga. Tapi kan itu tidak mungkin untuk sementara waktu ini, karena kita masing-masing zona merah. Dan lagi ibu saya sudah agak sepuh jadi rentan untuk menularkan atau ditularkan. Memang, bulan ini kita disuruh untuk banyak-banyak bersabar dan tawakal ya.

Untuk mengusir rasa bosan, anak-anak saya ajak masak, berjemur, bermain catur, mengaji, mengerjakan tugas online dan sore hari melihat tayangan pengajian di televisi. Saya rasa penting juga untuk mengajarkan keterampilan hidup seperti memasak ini pada anak-anak putri karena mereka tidak selamanya akan selalu ikut kita orang tuanya. Suatu saat mereka akan menikah dan punya suami, kalau mereka tidak diajarkan hal-hal kecil ini mereka akan kesulitan sendiri. Saya dulu juga buta sekali memasak, tapi untunglah ibu mertua saya dengan sabar mengajarkan memasak kepada saya. Dulu, kalau boleh jujur saya bisanya hanya masak mie godhog atau mie goreng. Disuruh ibu saya untuk belajar masakpun saya malas sekali. Ternyata bisa memasak itu sangat banyak manfaatnya seperti bisa mengirit pengeluaran dan suami juga tambah sayang. 

Saya sangat bersyukur di masa Pandemi ini anak-anak sehat. Sakitpun paling yang ringan pilek. Saya agak parno kalau harus pergi ke rumah sakit, anak-anak suka takut melihat para dokter memakai APD. Fyuh.

Quran Ramadan Ramadhan - Foto gratis di Pixabay

Ramadhan kali ini terjadi penurunan daya beli bagi masyarakat Indonesia. Untuk beberapa produk seperti kue lebaran dan baju-baju agak mengalami penurunan. Bahkan, beberapa    toko kue merumahkan beberapa karyawannya. Saudara ipar saya yang notabene menerima pesanan kue lebaran juga menurun drastis pesanannya di bulan ini. Persiapan Lebaran ini saya sudah membeli beberapa jenis kue dan untuk baju belum sempat keluar nih. Namun, yang pasti persiapan hati dalam menyambut hari Iedul Fitri, dimana hati kita kembali suci dan memaafkan kesalahan orang lain.

Anak-anak saya bahkan berceloteh lucu. Duh, kalau ga ada mudik nanti ga dapat angpao dari Budhe Arum, Uti, Pakdhe Budi dong ma. Hehe. Jawab saya silaturahmi kan bisa kapan saja dek, Insyaallah mereka selalu ingat kamu meski kamu tidak pulang. Mudik tetap ada tapi ditunda. Gapapa kan?

Biasanya kalau Ramadhan tahun-tahun yang lalu hari pertama saya biasanya berkunjung ke rumah mertua di Tembalang, dan tidur sehari disana dan paginya sholat Ied di masjid terdekat mertua saya. Agak siang saya pulang ke Salatiga, rumah ibu saya. Disana sudah berkumpul kakak-kakak saya dan adik saya berikut ponakan-ponakan jadi sangat ramai. Malam harinya main mercon, dan bikin heboh tetangga-tetangga hehe. Paginya saya dan keluarga "ujung-ujung" atau berkeliling saling maaf memaafkan ke saudara-saudara terdekat ibu saya. Selain itu bertemu dengan saudara-saudara saya yang dari Jakarta. Kemudian jalan-jalan ke Boyolali, tempat saudara-saudara ibu saya. Benar-benar berkesan. Bagaimana dengan Ramadhan kalian teman?

 

 

 


Lakukan 5 Hal Ini Ketika Anak Alami Verbal Bullying

Friday, May 1, 2020

Finger Pointing Bright Young Things Drama - Bright Young Things Drama
Diambil dari google.com

Assalamualaikum,
Dear Pembaca,
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju pra-dewasa. Di dalamnya terdapat pergolakan batin yang sangat besar bagi si teenager.
Banyak orang bilang kenakalan anak mencapai puncaknya saat remaja. Begitu pula yang terjadi pada si sulung saya,  masuk masa remaja si sulung jadi mulai berubah. Dia jadi memiliki privasi, lebih suka mengurung diri di kamar entah itu membaca buku ataupun melihat tayangan di laptop. Suka membantah, lebih vokal dan suka merasa dia itu sudah besar tapi tingkah lakunya masih seperti anak-anak.

Anak saya pernah mengalami apa yang disebut dengan verbal bullying. Verbal Bullying adalah kata-kata kasar yang dikeluarkan oleh pelaku bullying untuk membuat sasarannya menjadi tertekan. Anak saya pada dasarnya memang pemalu dan pendiam. Beda banget dengan si adik yang suka ngobrol dan curhat. Pulang sekolahpun sukanya nyerocos duluan, entah itu bercerita tentang temannya, gurunya atau apa yang dia alami di sekolah. Si sulung itu kalau berada di rumah itu suka cerita dengan si adik sampai lewat jam 9 malam, tetapi kalau di sekolah dirinya teramat sangat pendiam, bahkan kepada gurunyapun kalau tidak diajak ngobrol dia tidak akan ngomong. Saya waktu itu memang agak khilaf dengan anak-anak ketika kelahiran anak yang ketiga. Saya sadar saya kurang melakukan komunikasi dengan anak-anak sepulang sekolah terutama dengan si sulung. Saya lebih banyak memperhatikan anak saya yang lebih kecil. 

Sampai suatu hari ada panggilan dari guru BK kalau anak saya ada masalah di sekolah dan dia sempat dibully dengan temannya. Teman yang membullynya itu adalah teman cowok. Tidak tahu ya entah dia itu naksir atau gimana tiap anak saya pas pelajaran olah raga selalu diolok-olok tidak bisa. Anak saya memang tidak suka pelajaran olah raga, anaknya mageran...dirumahpun suka saya suruh olahraga tetapi paling cuman 5 menit setelah itu pulang ke rumah. Dia sepertinya kurang nyaman dengan sekolah yang sekarang, dia merasa teman-temannya itu banyak yang "FAKE" dan tidak tulus. Kelas 2 dia sempat mogok sekolah dan pingin pindah sekolah. Saya juga sudah mencari sekolah, namun timingnya kurang tepat kata kepala sekolah swasta yang saya incar. Oia sebelumnya si kakak itu sekolah di sekolah islam swasta dan selama itu tidak ada masalah dan baru masuk SMP ini dia memiliki masalah dengan temannya. SMP sekarang ini adalah SMP Negeri.

Saya kemudian merubah sikap saya untuk lebih perhatian kepada anak-anak saya. Terutama si sulung. Tiap pulang sekolah hp saya simpan dan saya mengajak mereka mengobrol. Saya rasa bullying itu bisa terjadi dimana saja, tinggal bagaimana peran orang tua menyikapinya. Biasanya, pelaku bullying  adalah anak-anak yang kurang perhatian dan bisa jadi dia dirumah juga suka dibully oleh orang tuanya. Alhamdulilah, si sulung sekarang sudah mulai berubah. Dia sebenarnya tidak pendiam tetapi dia memilih "mute" atau diam kala lingkungannya tidak cocok. Untuk SMA nanti sengaja saya pilih SMA swasta yang mungkin bisa lebih menyenangkan hatinya. Harapan saya semoga nanti dia bisa berubah dan bisa bergaul dengan siapa saja, dan saya menyuruhnya untuk mengikuti kegiatan ekstra karate untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.

Bullying atau perundungan pada dasarnya adalah perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang memiliki kekuatan lebih besar daripada korban. Perilaku bullying bisa berupa tindakan fisik maupun verbal yang dilakukan secara berulang-ulang. 

Anak Jadi Korban Bullying, Orangtua Harus Apa? (Dari HALODOC)

Pasti kesal dan sedih rasanya kalau buah hati menjadi korban tindakan yang tidak semestinya di sekolah. Nah, berikut tips yang bisa ibu dan ayah lakukan jika anak menjadi korban bullying:
1. Jeli Melihat Tanda-tandanya
Sayangnya, tidak semua anak akan bercerita pada orangtuanya jika mengalami tindakan tidak menyenangkan di sekolah. Umumnya, mereka lebih memilih merahasiakannya.
Artinya, ibu harus pandai mengenali tanda anak mengalami bullying, seperti anak terlihat murung atau sangat ketakutan jika disuruh pergi ke sekolah, seperti dilansir dari KidsHealth.
Jika benar bahwa anak telah di-bully, dengan pelan-pelan minta ia agar mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ibu dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi situasi tersebut, namun hindari mendorong anak membalas pelaku bully.
2. Beri Tahu Pihak Sekolah
Setelah mengetahui anak menjadi korban bullying, segera bicarakan masalah ini dengan pihak sekolah seperti guru atau kepala sekolah untuk sama-sama mencari solusinya. Hindari terbawa emosi, namun tetap fokuskan semuanya bertujuan agar anak mendapatkan keamanan.
Pasalnya, sebagian besar kasus bullying justru tidak diketahui oleh pihak sekolah, karena anak-anak pelaku bully baru mulai beraksi saat tidak ada guru di sekitarnya, seperti ketika sedang jam istirahat atau pulang sekolah.
3. Arahkan Anak Menghadapi Pelaku Bully
Beritahu anak bagaimana harus bersikap di depan pelaku bully. Si Kecil tidak boleh malu, minder, atau takut saat berhadapan dengan anak-anak nakal pelaku bully. Sebaliknya, mereka harus berani berkata kepada pelaku “berhenti mengejekku”, “diam”, dan “hentikan”. 
Laman BullyingUK menyarankan, orangtua untuk meyakinkan sang buah hati bahwa hal ini bukan kesalahan mereka. Mengalami bullying bukan berarti Si Kecil adalah anak yang lemah, pelaku tidak selalu adalah anak yang lebih kuat atau dominan. Jadi, penting untuk tetap membuat anak merasa percaya diri
4. Pantau Terus Keadaan Anak
Jangan menyerah ketika anak merengek tidak ingin sekolah karena menjadi korban bullying. Sebaliknya, tetap dukung sang buah hati untuk pergi ke sekolah, tetapi pastikan tetap memantau keadaan anak dengan aktif bertanya, seperti “Bagaimana hari ini?”, “Apakah anak itu masih melakukan bullying?”, “Lalu apa yang kamu lakukan saat mereka melakukan itu?”, dan lain-lain.
5. Pindah Sekolah
Jika masalah bullying terus berlanjut dan kondisi anak semakin parah, maka ibu bisa memikirkan untuk memikirkan solusi lainnya, seperti memindahkan anak ke sekolah baru atau mengganti konsep belajarnya menjadi belajar di rumah (homeschooling) untuk sementara waktu.
Pada intinya, jangan pernah sepelekan bullying pada anak. Hal ini bisa menyebabkan anak  trauma akibat bullying bisa terbawa hingga ia dewasa dan mempengaruhi kehidupannya nantinya.
Menurut kalian sudah benarkah tindakan yang saya lakukan? Tolong kasih masukan ya.......




 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS