Ajarkan Anak Merasakan Kecewa

Monday, February 26, 2018


Haiiii..pembaca

Mempunyai 2 anak yang sudah besar-besar, kelas 1 SMP dan kelas 3 SD, membuat saya memiliki lumayan banyak pengalaman seputar tumbuh kembang anak. Karenanya, pada kesempatan ini saya hendak berbagi tips parenting yang mungkin bermanfaat untuk kalian semua.

Kasus 1 

Ceritanya sedikit flash back pada saat anak saya, yang pertama kelas TK besar. Namanya Lia. Waktu itu dia berusia 5 tahun. Karena, dia masuk TK belum genap 4 tahun, makanya di TK besar dia masih berusia 5 tahun. Di tahun tersebut 2009, dia mempunyai adik baru, Lala namanya.

Awalnya dia senang bukan main karena memiliki adik baru. Karena, semenjak di kandungan saya sudah mengenalkan si dedek kecil kepada si kakak. Namun setelah 1-3 hari, mulailah si kakak ini berulah. Dia seringkali tantrum. Yang tiba-tiba nangis sendiri dan bisa tahan berjam-jam. Biasanya, tantrum ini mulai ketika dia hendak berangkat tidur. Sekitar jam 8-9 malam. Mulailah dia tiba-tiba menangis, dan tanpa alasan yang jelas. Semakin saya beri perhatian, bukannya dia diam malah makin menjadi-jadi. Menangisnya bisa tahan 2 jaman lho. Saya yang seringkali kehilangan kesabaran, saya cubiti dia. Tapi, setelah itu saya jadi menyesal. Sangat menyesal.

Hal itu berlangsung sekitar 1 mingguan. Kemudian saya bilang dengan suami, kita tidak bisa membiarkan ini terus-menerus, saya capek mengurusi si kecil dan juga capek secara emosional menghadapi si kakak. Lantas, kamipun berkonsultasi ke psikolog anak di RS Kariadi dan dilayani dengan baik dengan ibu psikolog anak (namanya lupa, maaf ya sudah lama sekali soalnya). Beliau segera tahu kalau si kakak ini mengalami Temper Tantrum. 

Temper tantrum adalah kumpulan perilaku marah anak yang ditampilkan karena keinginannya tidak terpenuhi, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di tanah bahkan sampai menjatuhkan barang-barang. Biasanya perilaku tersebut akan dipertahankan oleh anak, sampai keinginannya terpenuhi (www.afrakids.com). Hal ini dipicu oleh : 
  • Kecemburuan. Dia cemburu dengan adik barunya. Ada suatu ketakutan yang dia tidak bisa diungkapkan. Ketakutan bahwa perhatian kedua orang tuanya akan beralih ke si adik.

 Solusinya :

  • Meminta agar si kakak tetap mendapat prioritas perhatian yang utama. Kalau si bayi kan nangis, dinenenin bentar terus diem dan bobok. Sedang si kakak ini kalau tidak diberi perhatian, dia bakalan ngambek dan protes.
  • Jangan pernah memukuli/mencubit anak. Sebaliknya hadapilah dengan penuh kesabaran
  • Sering diajak mengobrol dan diajak bermain seperti saat dia belum punya adik.
  • Waktu itu ibu psikolog menyarankan sebaiknya kalau ibu mampu,  pakailah jasa pembantu supaya si kakak tetap diantar jemput sekolah dengan ibunya dalam artian dia tetap ada perhatian khusus dengan si ibu
  • Kala tantrum sebenarnya solusi terbaik adalah membiarkannya, lama-lama dia akan diam sendiri. Ibu tetaplah beraktivitas seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Misalkan si kecil tantrum saat si ibu sedang beraktivitas di dapur, ya tetaplah masak seperti biasanya.
  • Ajarkan anak tentang berbagai macam emosi seperti sedih, gembira dan kecewa. Karena itulah bekalnya untuk bisa berhasil di masa mendatang.
Saya merasa sangat beruntung sekali karena bisa bertemu dengan psikolog anak yang tepat. Sejak itu untuk sementara waktu, saya memakai jasa pembantu. Karena, ada suatu kejadian si kakak ini pernah hampir menutupi si adik dengan bantal,  dikarenakan menangis tak kunjung diam. Waktu itu baru saja saya ke dapur sebentar lho. Kalau ingat masa itu....................
Saya kemudian mempraktikkan semua yang dijelaskan ibu psikolog tadi, dan juga tak lupa membeli buku-buku parenting.

Kasus 2
Ini cerita tentang si adik beberapa hari yang lalu. Ceritanya, Jum'at minggu kemaren saya menjemput si adik, Lala seperti biasa. Lala berumur 8 tahun kelas 3 SD Islam. Dia bilang kalau dia sudah janjian dengan teman-teman segengnya untuk main ke rumah Olin. Di rumah Olin ada kolam renangnya, dan semua teman-temannya diajak ke rumah. Kebetulan Lala itu hobi banget berenang. Makanya dia sangat exited banget. Pada hari Jumat sekolah lala pulangnya gasik yaitu jam 11. Tapi, bagi saya jam segitu sudah panas banget, apalagi kondisi saya lagi hamil muda gini malas keluar-keluar rumah.

Sepanjang perjalanan pulang dia sudah merengek minta ke rumahnya Olin nanti jam 12 siang. Katanya teman-temannya pada janjian jam 12 di sekolah, selanjutnya dijemput mamanya Olin. Saya juga tidak memiliki no wanya mama Olin, lantaran dia tidak masuk grup WA jadi kesulitan juga menghubunginya dan teman-teman saya juga tidak memiliki no wanya.

Mah, boleh ya ke rumahnya Olin? Boleh ya? dengan wajah mengiba-iba. Saya jawab : Tidak boleh sayang, kalau sore boleh kan tidak panas. Lagian, mama tidak punya no wanya mamanya Olin, terus mama males keluar. Belum mesti juga mamanya Olin setuju kan kalau janjian jam segitu La?
Saya lihat mukanya mulai meradang karena marah. 
Dia mulai ngomel-ngomel. Tapi, kan semua teman-temanku sudah janjian di sekolah dan nanti sore dianter pulang katanya lagi. 
Sampai di rumah, dia masuk kamar lalu guling-guling di kasur sampai-sampai seprei lepas semua. Nangis kekejer. 
Mama jahat. 
Kemudian, dia menangis tidak berhenti-henti. 
Ayahnya datang dan dia tidak tega : Nanti ayah anter ya, nanti ayah kan jumatan. 
Wah, ayah ga kompak og kataku.
Yah, ingat tidak psikolog dulu itu pernah bilang kalau anak itu harus sesekali juga merasakan kecewa biar dia jadi orang yang kuat dan tidak lemah. 
Udah, biarin aja nanti kan dia berhenti sendiri tantrumnya.
Setelah 15 menit menangis, dia capek sendiri. 
Ketika dia sudah agak tenang saya bilang,"Bukannya mamah tidak mau nganter, karena kan jam 12 itu kan panas banget Dek, dan ternyata tadi mamahnya Rahma wa katanya rumahnya jauh banget, dekatnya Giant. Nanti, kapan-kapan boleh janjian lagi dengan Olin tapi sore hari aja ya. 
Dia sudah senyum lagi. 
Kesimpulan: Ajarkan anak kita merasakan semua emosi senang, sedih, gembira dan kecewa. Bahwa, tidak semua keinginan itu harus terpenuhi. Supaya dia tumbuh menjadi pribadi kuat dan tidak manja.

Semoga bermanfaat ya ^^










9 comments:

  1. duh aku deg2an nih nanti Neyna gimana ya pas adenya lahir meski dari sekarang uda dikenalin tapi masih tetep aja y mba ada drama juga..emang kalau anak nangis bawaannya tuh duh luarbiasa pengen banget tangan ni nyentuh ahhaha...ujian pisan

    btw mba semoga sehat2 juga y kehamilannya saat ini dan kaka2nya smeoga kelak sudah bisa mengerti dengan kehadiran adik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin yra...smoga neyna tidak apa2 dan sudah siap mjd kakak

      Delete
  2. mbak lia kayak ponakanku dulu, mbak.kadang juga guling-guling di lantai. tapi sama kita yang udah dewasa ya dibiarin aja. hee..soalnya kalau dideketin malah kena tendangan atau tabokannya dia :D dan memang benar, akhirnya dia diam sendiri kalau udah capek dan udah reda marahnya :)

    ReplyDelete
  3. Intan kalau yang tantrum suka lempar-lempar barang huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. oooh gitu ya.mmg tantrum kyk gitu mbak. nt lambat laun hilang sendiri

      Delete
  4. Keponakan juga gitu mbak. Kadang kalo keponakanku rewel nggak mau dinasehati gitu pengen tak cubit aja. Tapi setelah nyubit gitu aku nyesel dan minta maaf langsung sama keponakan aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak ....mmg anak2 itu sukanya ngetes kesabaran orang dewasa ya he he

      Delete
  5. Waaah anaknya lucu banget. Keingingan anak2 memang tidak harus selalu dipenuhi supaya mereka belajar mengatasi rasa kecewa.

    ReplyDelete

Mana komentar HOREnya?..agar kita semakin akrab. Insya Allah pasti saya komen balik. Mohon maaf, karena banyaknya komentar spam, maka komentar yang masuk saya moderasi.
Terimakasih telah berkunjung, dan berkomentar dengan sopan ^_^
Jangan meninggalkan link hidup ya sis/bro



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS